Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Teknologi

Media Massa Sosial Bantu Film Horor Naik Daun, Akademisi Unair: Ceritanya Viral Duluan

21
×

Media Massa Sosial Bantu Film Horor Naik Daun, Akademisi Unair: Ceritanya Viral Duluan

Share this article
Example 468x60

Jakarta – Pengamat film dari Universitas Airlangga (Unair), Igak Satrya Wibawa, memaparkan antusiasme jutaan penonton Indonesi terhadap film bergenre horor tak muncul begitu saja. Genre yang dimaksud belakangan naik daun dikarenakan digenjot oleh media sosial. Buktinya tampak pada kesuksesan beberapa film horor lokal, seperti KKN pada Desa Penari lalu Vina: Sebelum 7 Hari.

“Ceritanya sudah ada ramai dulu pada media sosial. Bisa dibilang penawaran yang mana masif juga memberikan efek positif, bahkan sebelum film itu dirilis,” kata Igak melalui keterang tertulis, Selasa, 25 Juni 2024.

Example 300x600

Dosen Keilmuan Komunikasi Fakultas Bidang Studi Sosial kemudian Bidang Studi Politik (FISIP) Unair itu mengumumkan media sosial berperan besar pada pembaharuan perilaku masyarakat. Ketertarikan penduduk terhadap suatu cerita dapat memacu minat rumah produksi untuk menghasilkan film adaptasi.

Sejumlah film horor lalu thriller memang benar diangkat dari kisah nyata, mulai dari film Perawan Desa (1980) yang tersebut menceritakan perkembangan kejahatan asusila terhadap Sum Kuning; Arie Hanggara (1985), dan juga Marsinah (2001). Tema horor-kriminal beberapa orang film lawas tersebut, menurut Igak, identik dengan Vina: Sebelum 7 Hari, kisah yang mengangkat rekayasa kematian Vina Cirebon. Namun, antusiasme rakyat dulu berbeda, oleh sebab itu penyelenggaraan media sosial belum semasif sekarang.

Igak menduga genre horor juga laris sebab jalan cerita yang mana sederhana, namun menggalakkan adrenalin. Alih-alih plot yang rumit, penonton lokal dianggap lebih lanjut mencari sensasi kaget juga takut.

Meski terangkat oleh media sosial, dosen Unair ini bukan setuju bila film horor-kriminal seperti Vina: Sebelum 7 Hari disebut dapat membantu pengusutan kasusnya. “Selesai tidaknya sebuah perkara itu tidak peran film, tetapi kepolisian,” tutur dia.

Meski begitu, ia mengakui bahwa film mampu membantu mengangkat kembali isu kriminal yang tersebut belum terpecahkan. Pasalnya, kata Igak, pemerintah cenderung bertugas pasca sebuah perkara berubah menjadi viral.

“Ke depannya, viral culture akan berubah menjadi kontributor yang mana signifikan untuk memproduksi film pada Indonesia,” tutur Igak.

Artikel ini disadur dari Media Sosial Bantu Film Horor Naik Daun, Akademisi Unair: Ceritanya Viral Duluan

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *